Bulan Ramadhan Mendadak Religius

Mendadak Religi Selama Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana umat Islam diseluruh dunia menjalakan ibadah puasa wajib selama kurun waktu kurang lebih 30 hari. Selama periode tersebut banyak dimanfaatkan dengan mengintensifkan ibadah dari yang terkecil hingga yang besar yang notabene sangat jarang kita lakukan, seperti bersedekah ke fakir miskin, menyantuni anak yatim sampai memikirkan kaum janda yang kurang perhatian dan belaian kasih sayang.

Begitu specialnya bulan ini hingga mampu mengubah kebiasaan orang, masyarakat, bahkan media sosial dan media hiburan (yang jelas bukan media tanam), menjadi seakan kental akan nuasa Ramadhan. Ya, bulan Ramadhan mengubah semuanya menjadi mendadak religius.

“Sok tahu nih min, perasaan biasa aja deh”

Kedatangan bulan Ramadhan sendiri bisa kita ketahui jauh hari sebelum pemerintah menetapkan tanggal dimulainya puasa. Salah satu yang paling mencolok adalah tanyangan TV yang mulai menayangan iklan sirup. Dimana iklan sirup mulai diputar, disitu kita bisa tahu sebentar lagi mau puasa. Jadi bagi yang gak punya kalender dan gak bisa melihat hilal, bisa terbantukan dengan adanya iklan sirup.

Semua stasiun pertelevisian tak lepas dari iklan yang satu ini, dari TV lokal hingga nasional semuanya ada saja iklan sirup? Iklan sirup di bulan Ramadhan, sama hubungan antara bersin yang selalu dibarengi dengan menutup mata, seperti kaitan BAB yang tanpa sengaja pasti juga sambil BAK (buang air kecil), tetep keluar meski gak pengen kencing (kalu gak percaya cobain aja BAB nahan BAK pasti gak bisa).

Hal ini membuatku sebagai penikmat iklan TV menjadi gusar (nonton sinetron udah kelewat mainstrem gaes), kenapa sih selalu sirup iklannya? Tak pelak hal ini membuatku mencoba beralih nonton video Youtube lewat handphone, berharap iklan disana lebih bervariatif.

Namun tak bertahan lama. Nyatanya gak jauh beda, gak di TV gak di Youtube sama saja iklannya sirup-sirup juga. Inilah sebabnya banyak temen bilang aku nampak stres selama bulan puasa, alasannya jelas adalah karena kurangnya asupan tontonan iklan yang berkualitas, monoton dan membosankan. (alasan sebenarnya padahal bingung mikirin duit buat lebaran, mana THR turunnya lama).

Meningkatnya jumlah penonton TV saat Ramadhan, tak hanya dimanfaatkan produsen sirup untuk menaikan penjualannya. Ada satu lagi iklan yang sering kita jumpai pada bulan ini. Jika menebak iklan sarung, selamat anda benar (hadiahnya bisa minta sama emak masing-masing ya, maklum ini blog budgetnya minim). 

Sarung menjadi salah satu barang yang tak terlewatkan dalam daftar belanjaan saat menjelang bulan puasa tiba, khususnya bagi mereka yang sering kehilangan sarung atau lupa naruh sarungnya dimana, kayak aku contohnya. (Jadi inget dulu waktu ngekos sarung sering hilang pas dijemur diluar ruangan, hingga kini masih suka trauma kalau punya sarung, jadinya sekarang gak pernah beli).

Merasa hiburanku dimonopoli oleh iklan sirup dan sarung, terbesit pemikiran-pemikiran aneh dalam benak ku, kenapa sih iklan sirup dan sarung banyak muncul di bulan Ramadhan? Maksutnya hari-hari biasa mereka kemana aja? Kenapa kok gak pas acara sepakbola aja sponsornya sirupnya? Kenapa juga iklan sarung gak pernah tanyang saat final Liga Champion? Satu-satunya kesimpulan yang bisa aku dapat mungkin karena iklan sirup dan sarung minim buged, sama kayak blog ini. 
Iklan Sirup Selama Bulan Ramadhan
“Yaelah min, ngapain mikirin sponsor iklan TV? Mending pikirin tuh kapan ini blog ada sponsornya”

Satu lagi hal banyak kita jumpai selama bulan puasa, yakni maraknya konten lagu religi Islami menghiasi kancah permusikan tanah air. Dari lagu berbahasa lokal dan internasional, mulai dari bahasa Indonesia sampai bahasa Arab, hingga gaya Indonesia tulen yang dipaksa di Arab-arab in. Tapi kayaknya soal promo lagu Islami selama bulan puasa gak perlu aku ceritakan deh, soalnya emang dah sewajarnya gitu (nyari aman, lagi musim ada laporan penistaan).

Takut kalau ada berita headlinenya “gara-gara mengomentari promosi lagu religi, admin blog ini ditangkap karena tuduhan penistaan agama, kisahnya bikin miris !” (apa Cuma perasaanku aja ya judulnya kepanjangan, tapi banyak liat artikel blog hoax judulnya kayak kereta. Ah sudahlah)

“Kalo gak pengen diceritain ngapain ditulis -_- Cerita yang lain aja min”

Kembali ke judul nih, mendadak religi tidak hanya terjadi pada tanyangan televisi saja, namun dalam konteks bersosial media justru lebih banyak jumlahnya. Dan salah satu hal yang bikin aku geram datang dari dunia internet. Mahkluk pencari receh seperti aku yang biasa dikenal dengan istilah conten creator macam Blogger dan Youtuber berbondong – bondong membuat konten berbau Islami. 

Bukanya apa-apa, kalau mereka yang biasa membuat konten hiburan sih gak masalah, atau mereka yang menyuguhkan cerita positif dan menginspirasi macam aku juga masih bisa dimaklumi (ceritanya muji diri sendiri). Tapi yang jadi masalah bagi mereka pembuat berita dan konten berbau hoax.

Entah ini hanya pikiran negatifku saja atau gimana, mereka yang biasanya memposting tentang konten berita hoax seperti “Daftar Artis yang Diketahui Sudah Tidak Perawan Lagi” yang setelah di klik link bener sih beritanya, Cuma daftar artisnya sudah berkeluarga.

Selama bulan puasa postingan mereka tetep saja sih berita-berita hoax juga (namanya juga pilihan profesi), tapi karena ini bulan puasa beritanya berubah menjadi khas Islami. Contohnya “Habis Imsyak, Wanita Ini Melakukan Hal Mengejutkan Dengan Pacarnya” saat di klik eh taunya melakukan tadarusan (ya kan bulan puasa, kalau nggak mungkin yang lain, semisal sarapan bareng :p).

Mendadak religi di dunia internet tak hanya berasal dari blog dan berita saja. Bahkan jejaring sosial sejenis Facebook, Twiter, Instagram dll tak lepas dari hal tersebut. Paling mirisnya media sosial ini seolah menjadi ajang pamer ibadah.

Mau solat update status, mau amal update status, mau tarawih update lagi, sampai mau batalin puasa aja dibikin status. Niat pengen eksis sama pamer tuh beda tipis, terkadang malah ada yang updatenya apa tapi yang dikerjain apa. Tapi berhubung suasana ramadhan tetep, updatenya berbau religi.

Pengalaman waktu itu lagi main dirental PS sama temen pas jam terawih. Biar dikira solat terawih, dalam postingan Facebook temenku ini menulis “Solat terawih dulu biar disayang calon mertua”. Status yang diunggah sekitar pukul 19.30 WIB tersebut dengan mantab ia kirim seolah alibi buat main PS sempurna.

Namun seperti yang dibilang pak polisi yang namanya tak mau disebutkan, bahwa tidak ada kejahatan yang sempurna. Dia lupa kalau jadwal sholat terawih di tempat kita itu dimulai dari pukul 19:15 – 20:00. Mana ada coba sholat terawih sempet-sempetnya main HP apalagi update status. Dan poin menjengkelkanya adalah dia ngetag Facebook ku. (kan jadi ketahuan kalau bolos terawih berjamaah -_-)
Beribadah Dijadikan Alasan Untuk Keluar Main
”Makanya min, ajakan gak baik jangan di ikutin, kena batunya kan”

Selaras dengan postingan update status, di dunia nyata pun mengalami hal serupa. Pulang jumatan sandalnya ilang, biasanya keluar kata-kata sumpah serapah, tapi ketika bulan puasa mendadak jadi iklas dan tabah, kan berasa ganjil aja liatnya. 

Kadang ada juga yang berubah jadi mendadak bijak dan suka ceramah. Liat temen sandalnya ilang “sabar bro ini ujian”, liat temen pengen marah-marah “sabar bro ini ujian”, lagi diare nunggu antrian panjang di toilet “sabar bro ini ujian” sampai liat temen kebingungan ngerjain ulangan juga di ceramahin “sabar bro ini ujian”

“Nggak segitunya juga keles min”

Kesimpulan

Bulan Ramadhan memang banyak dijadikan momen bagi umat muslim untuk hijrah menuju jalan yang lebih baik, meningkatkan ketaqwaan dan iman kepada Yang Maha Kuasa. Dalam satu bulan ini menjadi waktu yang pas bagi kita untuk belajar lebih dalam mengenai agama dan menjadi berkah bagi siapa saja tak terkecuali bagi warga non muslim. 

Tapi jika ini untuk kebaikan bersama mengapa kita hanya melakukanya dalam sebulan? Mengapa kita menunggu momen bulan Ramadhan untuk berbuat kebaikan? Mengapa kita menunggu bulan bulan Syawal untuk bermaaf-maafan, mengapa menunggu bulan purnama hanya untuk berubah menjadi serigala?

Kenapa kok gak setiap bulan kita anggap sebagai bulan Ramadhan? Dengan begitukan kita gak pusing-pusing lagi nyari momen yang pas buat berbuat kebaikan, gak perlu bingung juga menentukan kapan kita mulai hijrah. Tapi jika dipikir kembali mungkin ada beberapa orang yang dibuat pusing karenanya, yakni produsen sirup dan sarung yang pusing mikirin aggaran buat promosi iklan di TV. (Admin – F)

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Bulan Ramadhan Mendadak Religius"

  1. mampir gan di mari http://infobloranews.blogspot.co.id/
    syukur ada acara ngopi bareng ya ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. siap gan. saya masih baru terjun di didunia ini. kalau ada kesempatan pengen juga ngopi bareng sama temen2 juga

      Hapus

Pembaca cerdas selalu tahu pesan apa yang harus ditinggalkan.

Kontak

Nama

Email *

Pesan *