Rusaknya Moral Remaja, Salah Siapa?

Remaja Tawuran
Rusaknya Moral Remaja
Krisis moral yang dialami negara kita sudah mencapai kondisi memperihatinkan. Generasi muda yang seharusnya menjadi cikal bakal penerus bangsa justru bertindak dengan beragam tingkah laku tidak mencerminkan moral yang baik.

Jika biasanya aku bercerita diawali dengan mengenal lebih jauh tentang objek dari judul cerita, kali ini kita lewati saja. Pasalnya aku rasa tidak perlulah kita mengenal hal tersebut, pasti kalian sudah kenal dan mungkin menjumpai sendiri.

Berbicara soal moral gererasi muda khususnya usia remaja nih, jika ditanya kira-kira mengapa ya remaja sekarang banyak bersikap begitu? Mungkin kalian akan bingung dalam mencari jawabnya (atau mungkin aku saja yang bingung), dan menuding beberapa pihak untuk dijadikan kambing hitam.

Tapi cerita kali ini aku gak mau menyalahkan siapa pun, karena mencari kesalahan adalah suatu hal yang mudah. Kebanyakan orang jawabanya akan lebih condong ke pembelaan diri dan berujung pada kita gak tahu harus berbuat apa (lagi bener omongannya).

“Terus mau cerita apa nih?”

Aku mau bercerita tentang paham yang sering kita jumpai di masyarakat, dimana paham tersebut bisa jadi menjadi pemicu mengapa krisis moral terjadi pada remaja (kok kayaknya gak menyakinkan). Aku beranggapan jika masalah ini berakar tunjang (emangnya tanaman). Maksutnya tuh jauh dari apa yang kita banyangkan. Masalah sederhana, namun kita sering melupakannya (konsep macam apa ini).

“Dimulai dari mana nih ceritanya? Dan mana lucunya?

Kita agak serius ini ya soalnya menyangkut masa depan bangsa dan negara (sedih bro gak punya bahan punch line). Secara umum penyebab rusaknya moral remaja bisa dikategorikan menjadi tiga. Dari pendidikan, lingkungan, dan keluarga. Ketiga hal tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan (kalau aku pisah takutnya nanti aku disangka orang ketiga yang suka memisahkan hubungan).


Pendidikan remaja


Institut pendidikan merupakan tempat utama para remaja mempelajari berbagai macam ilmu, baik dalam ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Mulai dari pendidikan formal yang bisa didapat dari sekolah, maupun ilmu nonformal seperti ilmu agama, ilmu sosial, sampai ilmu kebatinan (bukan perdukunan).

Banyak anggapan bahkan sebagian besar orangtua menuntut anaknya (khusunya dalam hal ini anak usia remaja) meraih prestasi dalam pendidikan akademik yang konon katanya penting untuk kehidupan. Nyatanya tidak semua ilmu yang kita pelajari dibidang akademik tersebut diterapkan dalam konteks kehidupan nyata.

Misal nih, biasanya seseorang anak dianggap cerdas apabila nilai matematikanya bagus, padahal belum tentu ilmu matematika tersebut dipakai dalam kesehariannya. Misalkan persamaan linear 2 variable, atau bisa diartikan sebuah persamaan garis lurus yang mempunyai 2 variabel atau peubah. 

Contohnya 2x + 3y = 24, 3a + 2b = 24. Pernah gak sih make ilmu itu? padahal hal tersebut bisa dipergunakan untuk menentukan sebuah harga dalam penjualan (sok gaya guru nih). Ambil contoh percakapan penjual somay.

A: “Bang beli somay dong, 5000 dapet berapa?

B: “ 5000 dapet 2 somay 4 tahu dek”

A: “ Kalau 10000 bang?”

B: “Dapet 4 somay 8 tahu”

A: 2 somay + 4 tahu = 5000, 4 somay + 8 tahu=10000. Jadi berapa harga 1 somay bang?”

B: . . . . (tutup dagangan)

Pernah gak sih kalian beli somay kepikiran kayak gitu? (jelas gak lah, kurang kerjaan banget). Kenapa ilmu ini jarang terpakai? Padahal jika melihat dialog diatas sebenernya berguna banget kan? Jadi kamu yang sering membanggakan nilai-nilai matematikamu, selamat ilmunya jarang terpakai (efek dendam sama guru killer matematika).
Bermain Dengan Pelajaran
Ilmu Akademik Jarang Diterapkan
“Jadi ini materi tentang pendidikan remajanya apa nih? kok malah pusing mikirin pelajaran.”

Point pendidikan remaja terkait diatas adalah banyak orangtua menanamkan paham ilmu akademik lebih penting ketimbang ilmu sosial. Kenapa begitu? Jawabanya apa? Simple saja, jika ditanya demikian kita bisa temukan jawabannya ada diujung langit, kita kesana dengan seorang anak, anak yang tangkas dan juga pemberani (kok kayak lagunya Son Goku).

Bukan ya, yang benar hal ini berkaitan dengan moral dan kenakalan remaja yang semakin marak dijumpai belakangan ini.

“Kok bisa? Bukannya pendidikan itu juga penting?

Benar, lebih lengkapnya kira-kira seperti ini nih. Ketika ilmu dunia (dalam hal ini pendidikan akademik) tidak dibarengi dengan ilmu akhirat/sosial, maka sejak kecil para remaja ini sudah dijejali dengan pemikiran tentang dunia, dunia, dan dunia, terus saja begitu sampai akhir menutup mata (kayak lirik lagu). 

Pernah kan dengar ungkapan ilmu tanpa agama sama dengan kosong? (jelas gak mungkin soalnya ini aku yang nulis aja baru tau). Nah paham yang seperti inilah yang tanpa kita sadari membawa kebanyakan anak remaja pada tersesat.

“Tapi, temanku mondok/sering mengikuti kegiatan keagamaan juga banyak yang rusak moralnya?”

Coba perhatikan kembali teman kamu itu, dia mengikuti hal tersebut karena keingginan, atau karena paksaan dari orang lain? atau jangan-jangan hanya ikut-ikutan saja? Kebanyakan mereka yang sudah mengeyam pembelajaran di tempat keagamaan namun tetap terseret ke dunia kerusakan moral, tidak memiliki dorongan atau niatan dari dirinya sendiri. Alih-alih memiliki moral baik justru malah sebaliknya, mereka merasa terkekang dengan keadaan tersebut, dan sebagai pelampiasannya bersikap melawan ajaran yang telah diterima.

“Katanya tadi ada 3 faktor, yang lainnya gak dijelasin nih?”

Pasti dijelasin dong, jadi persiapkan aja dulu kopi sama cemilannya soalnya bakalan panjang ceritanya. Aku agak sedikit persingkat ceritanya karena jujur saja kalian yang baca pasti males kalo baca kepanjangan (mencari alasan buat nulis singkat). Kita ke faktor yang kedua nih, yakni berhubungan dengan penyebab rusaknya moral remaja dari lingkungan. 

Lingkungan remaja

Bukan rahasia lagi faktor lingkungan sering dikaitkan dengan kenakalan dan tindakan tak bermoral para remaja. Namun benarkah demikian? Pasalnya untuk beberapa kasus anak yang justru jarang bergaul juga banyak kedapatan melakukan hal “unmoral”. Kira-kira kamu tahu gak penyebabnya apa? (lho kok malah nanya). 

Menurut pengertian dari si Mbak Wikipedia (gak tau jenis kelamin aslinya, karena nama depannya Wiki jadi anggap saja cewek), pengertian lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.

“Bikin pusing aja sih min mikirin gituan”

Ok, kita abaikan pengertian tersebut. Kita garis bawahi point kalimat terakhir (tapi kan itu semua satu kalimat pengertiannya), perhatikan kalimat ini saja kalau begitu kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut

Nah dari situ kita bisa ambil kesimpulan bahwa media internet jaman sekarang juga merupakan suatu lingkungan karena merupakan lembaga dan sebuah ciptaan manusia (kelihatan maksa banget). Jadi jika kalian mengangap anak rumahan seperti aku ini gak bisa berpotensi berbuat kenakalan, anggapan tersebut bisa dipatahkan.

Kenakalan/perbuatan unmoral remaja saat ini biasanya bermula dari hasil menyontek apa yang mereka terima dari media internet. Contoh gaya ngehit, perilaku asusila, berita hoax, serta beragam konten negatif lainnya bisa diperolah dengan mudah lewat internet. 

Jadi ini juga bisa sebagai bahan bantahan kenapa anak yang lingkungannya baik bisa memiliki moral tak sebaik lingkungannya. Ini juga bisa sebagai sanggahan kenapa moral anak yang awalnya baik bisa berubah buruk meski negara api tidak menyerang (tiba-tiba teringat appa).

“Gitu ya, bisa dimengerti sih, tapi kira-kira ada cara mengatasinya gak?”

Semua masalah diciptakan tentu ada jalan keluar, tak terkecuali untuk problem seperti diatas. Caranya adalah dengan memberikan filter akses internet serta memantau aktifitas internet para remaja tersebut. Maka darinya dibutuhkan seseorang terdekat mereka dalam prakteknya, dan orang paling tepat mengemban tugas tersebut jelas adalah orangtua.

Sebenarnya bukan orangtua saja sih, bisa juga kakek, nenek, kakak, paman, bibi, atau siapa saja orang terdekat yang bisa dijadikan panutan. Nah dengan demikian kita juga bisa mengartikan bahwa peranan keluarga dalam hal ini sangatlah penting.
Penyalah Gunaan Internet Pada Remaja
Internet Juga Merupakan Bagian Dari Lingkungan

“Oh, jadi ini maksutnya ke tiga faktor tadi berkaitan ya”

Yoi gaes, maka darinya kalau aku pecah atau singkat ceritanya jadi berasa ada yang kurang. Ibarat kita pake baju tapi gak pake celana gitu, atau pake celana tapi lupa pake daleman, gak enak banget (dont try this at public). Lebih lengkapnya kira-kira kayak gini nih.

Keluarga remaja

Faktor dengan peranan terpenting tentang moral remaja berasal dari keluarga. Mengapa demikian? Ya jelas dong dikarenakan remaja tumbuh dan berkembang dari sebuah keluarga. Bisa dikatakan bahwa keluarga merupakan pondasi awal terbentuknya pola tingkah laku mereka, jika dasarnya saja sudah buruk, rata-rata si remaja ini pun juga begitu. 

Seperti kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Buah tersebut akan selalu dekat dengan pohon hingga tumbuh menjadi pohon, kecuali ada yang memungutnya/memindahkan (semoga gak bingung dengan perumpamaan ini).

“Sok tahu nih, buktinya ada juga yang keluarganya buruk tapi anaknya bersifat baik”

Mungkin dari kamu ada yang berkata demikian. Sah-sah saja jika kamu berpendapat seperti itu, kan tadi aku juga sudah bilang kecuali ada yang memungut atau memindahkan. Maksutnya, ada pihak lain sehingga buah ini berpindah posisi, misal saja ruas tanah yang miring, jatuh terbawa arus sungai, atau ada mahkluk hidup yang memindahkan.

Nah, faktor yang memindahkan inilah penyebab seorang remaja tidak mengikuti apa yang telah ia dapat dari keluarga. Namun tetap saja asumsi tersebut tidak merubah fakta bahwa keluarga tetap memengang peranan terpenting. Kenapa? Ya karena emang udah dari sananya gitu, hukum alamnya jika pohon mangga berbuah mangga, pohon jeruk berbuah jeruk, dan pohon jati tidak berbuah. (Kok perasaan sketsa tentang faktor keluarga ini jadi berasa bahas flora & fauna ya, semoga hanya perasaanku saja).

Keluarga ini dalam kesehariannya merupakan panutan dan pemberi contoh serta masukan paling sering bagi remaja. Maka dari itu, orangtua harus extra berhati-hati dalam memberikan masukan, terutama memberikan contoh pada anaknya. Salah strategi dalam memberikan contoh/masukan, bisa berakibat salah pula.

“Tolong .... siapa saja please .... admin mulai gila”

Mumpung kewarasan ini masih bisa aku kendalikan mending langsung saja ya aku bikin kesimpulan dari cerita kali ini. 

Kesimpulan 

Kamu masih ingat dong perkataanku diawal jika ketiga faktor tadi saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Logikanya gini nih, meski berpendidikan baik namun lingkungan buruk bisa menjadi sebab buruk pula moral remaja. Pendidikan dan Lingkungan baik tapi dari keluarga memberikan contoh buruk, otomatis bisa berakibat buruk pula. Pendidikan, lingkungan dan keluarga sudah baik tapi remaja masih juga bermoral jelek, mungkin dia bukan manusia (bisa jadi alien).

Pernah gak sih kamu lihat orangtua yang berharap banget anak kecilnya segera cepat bicara? Pernah dong (berusaha mendoktrin mencari dukungan). Namun ketika anak tersebut mulai bisa berbicara banyak dan aktif berucap (meski masih gak jelas) mereka justru malah menyuruhnya diam (kalau ini mungkin orangtuanya ang alien). Terlihat aneh tapi ini true story banget kan.

Atau kebiasaan orangtua yang senang saat anaknya pintar membaca, merasa bangga ketika anaknya mampu mengeja diusia dini. Padahal perlu diketahui, anak normal biasanya fasih membaca ketika mereka berumur 10 tahun. Namun sayangnya kebanyakan orangtua lupa menanamkan kesenangan dalam membaca. Jika begitu apa funsinya pintar membaca tapi gak pernah membaca.
Paham Salah Dalam Keluarga Remaja
Paham yang Sering Diterapkan Dalam Keluarga
Kesampingkan tentang kesimpulan anti klimak diatas, buat kamu para remaja jangan gampang terpengaruh dengan ajakan berbuat buruk, pandailah dalam memfilter diri dengan apa yang terjadi pada khalayak ramai. Memiliki prinsip kuat untuk memblokade paham sesat sangat penting kamu miliki.

Untuk orangtua, bantulah remajamu untuk mendapatkan prinsip kuat tersebut. Berikan contoh baik agar mereka memiliki alasan kuat untuk berbuat baik pula. Awasi pergaulannya sehingga tak sampai tejebak oleh lingkungan pergaulan yang salah.

Dan untuk lingkungan, aku bingung mau berkata apa, soalnya bukan suatu objek yang bisa dikritisi. Mungkin kalian bisa ngasih masukan buat si lingkungan ini dengan mengisikan pada kolom komentar.

Pada akhirnya terima kasih telah membaca cerita kali ini. Jika menurut kalian cerita ini menarik dan bermanfaat jangan lupa untuk klik like and share. (Admin – F)

Postingan terkait:

44 Tanggapan untuk "Rusaknya Moral Remaja, Salah Siapa?"

  1. Sekarang pendidikan hanya berisi duniawi gan tidak ada yang merujuk akhirat

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya begitu lah, meski disekolahan juga ada mata pelajaran pendidikan Agama, tapi rasanya masih ada yang kurang

      Hapus
  2. Rusakny moral mngkn tergantung dari diri sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. dirinya sendiri, namun tetap ada penyebabnya. karena pada awalnya orang itu sifatnya gak ada yang buruk.

      Hapus
  3. Rusaknya moral tergantung diri kita sendiri :) :v

    BalasHapus
  4. Iya, tergantung pribadi masing-masing

    BalasHapus
  5. Internet jika di manfaatkan dengan bijak, akan menjadi pembuka jalan untuk maju nya negara ini. namun di indonesia penggunan nya tidak terlalu bijak. malah menjadi alat untuk perang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju banget sama aga yang ini. internet merupakan jendela yang bisa membuka wawasan. namun sayang penggunaannya pada usia remaja masih belum bisa efisien

      Hapus
  6. rusaknya moral sekarang diakibatkan oleh sinetron ga jelas gan... apalgi sineron yang berbau geng motor.. anak anak makin nambah dah yang mau ikut msuk geng..

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh aku gak berani bilangiya meski pendapat agan ini gak bisa disalahkan. mungkin harus ada batasan yang baik untuk tontonan yang disesuaikan dengan usia mereka

      Hapus
  7. Juga tergantung dengan pergaulan sekitarnya

    BalasHapus
  8. memang miris jika bicara soal moral anak sekarang

    BalasHapus
  9. Susah sekarang mendidik moral bangsa kita

    BalasHapus
  10. ini mah tergantung diri sendiri saja

    BalasHapus
  11. Menurut saya pendidikan tentang agama adalah benteng terampuh agar remaja bisa terhindar dari moral yang tidak baik...

    BalasHapus
  12. Yap bener banget sobat RegenciPedia. Orang tua juga harus memperhatikan pendidikan agama anaknya.

    BalasHapus
  13. wkwkwkwk cerita nya lucu mas :v .. terus opini nya juga bisa di terima

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih telah berkunjung. jangan lupa like and share biar makin banyak yang tahu ya

      Hapus
  14. Wahaha ngakak waktu baca yang bagian siomay, bikin susah pedagang haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga gak tambah bikin pusing ya gan dengan beberapa joke yang kadang gak nyambung . ehehe

      Hapus
  15. wah joss gan tolong lanjutkan...

    BalasHapus
  16. menurut saya mah rusak moral nya remaja/manusia dimulai dari lingkungan yang negatif ataupun dari cara orang tua mendidik yang mungkin salah jadi gitu deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, pendapat agan tepat sekali. aku belum jadi orang tua sih tapi paling tidak menurut pandangan yang aku lihat dimasyarakat pola asuh sangat menentukan

      Hapus
  17. Emang klo ngomongin rusaknya moral remaja, salah siapa juga gk thu.. tapi mungkin faktor lingkungan yg paling berpengaruh.. karena hampir usia remaja lebih suka bergaul/ngumpul bareng teman dibanding di rumah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. maka dari itu gan, sebagai remaja harus bijak dalam mencari pergaulan. jangan sampai terjerusmus ke pergaulan yang salah

      Hapus
  18. mantap !! ceritanya lanjut gan

    BalasHapus
  19. yang paling berpengaruh itu lingkungan sekitarnya... keluarga juga mungkin berpengaruh

    BalasHapus
  20. bener bangett, orang tua berperan penting agar sang remaja bisa dapat prinsip yang kuat dalam menjalani hidup !

    BalasHapus
  21. Sebetulnya tidak perlu menyalahkan siapapun, tapi diatasi pun harus dengan sistem kerjasama dari berbagai pihak. Dari mulai guru, orangtua, tetangga, temannya, pemerintah, dan bahkan masyarakat sekitar. Karena hidup nafsi nafsi (hidup dengan ego kesendiriannya) yang telah menyebabkan penyelewengan moral itu berasal.

    Saya sebagai guru PPKn juga selalu berusaha dengan memberi penyuluhan tentang fenomena remaja supaya mereka kembali kepada kesadaran yang baik bukan kesadaran ego masing-masing. Semoga dengan sistem kerjasama dimanapun berada maka remaja dapat diselamatkan.

    Makasih ulasannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebagai seorang pengajar aku rasa bapak lebih tahulah mengenai persoalan remaja masa kini karena lebih sering berjumpa dan ngobrol banyak sama mereka. cerita diatas merupakan pandanganku sebagai warga biasanya yang resah dengan kondisi moral remaja saat ini

      Hapus
  22. Perlu kesadaran diri.. (y)

    BalasHapus
  23. yang jelas salah diri sendiri gan...

    BalasHapus
  24. Sebanarnya hanya dari sendiri ya emang gan, kondisi lingkungan pun juga sangat berperan besar bagi moral remaja.

    BalasHapus
  25. tergantung diri sendiri dan lingkungan sekitar sih gan menurut saya

    BalasHapus
  26. Mantap gan artikelnya, sangat inspiratif

    BalasHapus
  27. Banyak sekali sebenarnya yang mempengaruhinya, namun yang paling dominan lingkungan

    BalasHapus
  28. kalau rusaknya moral remaja itu kesalahan dari orang tua yang gagal mendidik anak, bisa dibilang anaknya juga yang salah

    BalasHapus
  29. sebwnarnya rusak nya moral remaja itu karna faktor lingkungan,teman serta kurang perhatiaan orang tua terhadap anaknya.

    BalasHapus
  30. Sepp gan
    Rusaknya gara gara perkembangan teknologi

    BalasHapus
  31. Temen ane juga gitu, udah mondok brapa tahun tapi malah moralnya berubah. Dulu dia anaknya rajin ibadah sama baik sama semua orang tapi sekarang malah kebalikannya :'v semua emang tergantung pada diri sendiri sihh. Intinya mah harus bisa ngebedain mana yg baik dan buruknya aja :D

    BalasHapus

Pembaca cerdas selalu tahu pesan apa yang harus ditinggalkan.

Kontak

Nama

Email *

Pesan *